"ma,tuku kae" sambil ku menunjuk ke mainan yang di pajang toko sebelah, "mengko cung ya mamae durung due duit, dagange durung payuh" terucap dari bibir yg kering karena haus. Percakapan ini tak mungkin terdengar lagi oleh telinga, tetapi akan selalu menggema dalam hati. Indah bila ku kenang, hampa selalu terbayang. Ayah...kau sosok yang mungkin pada saat itu sama seperti apa yang kurasakan saat ini. Anaku...pahamilah suatu hari nanti kau adalah tongkatku, kau adalah bahteraku. Dalam kesunyian malam aku sapa anak- anaku yang sudah terlelap sambil ku berdoa, Tuhan.. dahulu mungkin dalam tidurku pun dipandangi oleh ayahku dengan kasih, dijaganya dengan cinta. Dan aku hambaMu hanya bisa memohon sayangilah Ayahku, terangilah dia di saat waktunya yang sudah hampir gelap. Ayah.. cintamu kepadaku, doamu selalu menyertaiku. Anaku...hidupku selalu menjagamu, dan jangan lupa tuhanmu. Ayah..maafkan anakmu ini, bila baktiku tak bisa menandingi cinta dan doamu. Anaku maafkan ayah...