Agama Itu Mudah
Dalam kitab Orang-orang Bijak, Imam Ja'far Sidik mengisahkan, pernah ada dua orang bertetangga, seorang beragama Islam, seorang lagi belum menganut suatu agama. Seringkali keduanya terlibat diskusitentang agama, sehingga kawan si muslim tertarik masuk Islam.
Pada tegah malam, si muslim mengetuk pintu rumah si mualaf ( orang yang baru masuk Islam ) dan mengajaknya ke masjid. "Tengah malam begini adalah waktu yang tepat untuk shalat tahajud," ujar si muslim.
Setelah Shalat subuh, membaca zikir, dan doa-doa samapi udara tampak cerah, mualaf itu ingin pulang ke rumahnya, namun dicegah oleh si muslim. "Sabarlah, mari kita teruskan bezikir sehingga terbit matahari," katanya. Lalu, ia melanjutkan, "aku nasihatkan, agar anda berpuasa sunnahhari ini. Sekarang, bacalah al-Qran hingga matahari naik."
Demikianlah peristiwa ini terjadi, dan setiap kali mualaf ingin meninggalkan masjid, selalu diinta untuk meneruskan ibadahnya, Baru setelah shalat isya, ia diperkenankan pulang.
Namun pada malam berikutnya, si muslim dikejutkan oleh si mualaf, ketika yang pertama ini mengajaknya ke masjid. "Aku telah keluar dari agama ini sepulang dari masjid semalam," kata si mualaf. "Carilah orang lain yang tidak mempunyai pekerjaan, yang bisa menghabiskan waktunya cuma di masjid. aku orang miskin yang punya tanggungan. Aku harus mencari nafkah untuk keluargaku,"lanjutnya.
Pada tegah malam, si muslim mengetuk pintu rumah si mualaf ( orang yang baru masuk Islam ) dan mengajaknya ke masjid. "Tengah malam begini adalah waktu yang tepat untuk shalat tahajud," ujar si muslim.
Setelah Shalat subuh, membaca zikir, dan doa-doa samapi udara tampak cerah, mualaf itu ingin pulang ke rumahnya, namun dicegah oleh si muslim. "Sabarlah, mari kita teruskan bezikir sehingga terbit matahari," katanya. Lalu, ia melanjutkan, "aku nasihatkan, agar anda berpuasa sunnahhari ini. Sekarang, bacalah al-Qran hingga matahari naik."
Demikianlah peristiwa ini terjadi, dan setiap kali mualaf ingin meninggalkan masjid, selalu diinta untuk meneruskan ibadahnya, Baru setelah shalat isya, ia diperkenankan pulang.
Namun pada malam berikutnya, si muslim dikejutkan oleh si mualaf, ketika yang pertama ini mengajaknya ke masjid. "Aku telah keluar dari agama ini sepulang dari masjid semalam," kata si mualaf. "Carilah orang lain yang tidak mempunyai pekerjaan, yang bisa menghabiskan waktunya cuma di masjid. aku orang miskin yang punya tanggungan. Aku harus mencari nafkah untuk keluargaku,"lanjutnya.
Kisah in i memberi pelajaran kepada kita, bahwa seorang ahli ibadah telah berhasil mengajak seseorang masuk islam, tapi kemudian dia sendiri yang menjadikannya murtad, karena sikap ekstrimnya.
Rasulullah sendiri tidak membenarkan sikap ekstrim dalam beribadah, sehingga seseorang melupakan kewajiban terhadap keluarga dan masyarakatnya. Nabi pernah marah ketika ada diantara sahabatnya yang ingin berpuasa sepanjang hari dan beribadah sepanjang malam. "Engkau mempunyai kewajiban terhadap badan, keluarga, dan istrimu. Karena itu, berikanlah kepada yang berhak apa yang menjadi haknya,"sabda Nabi.
H. Junus Jahja, seorang mualaf keturunan Cina dalam bukunya Islam dimata WNI, mengungkapkan, diantara keengganan keturunana Cina masuk Islam, karena adanya kekeliruan penilaian tentang Islam. Islam dianggap sebagai agama yang terlalu banyak larangan dan sulit dilaksanakan bagi orang yang sibuk bekerja.
Dr. Yusuf Al-Qardhawi, seorang ulama dari mesir mengatakan, berdasarkan al-Quran dan sunah, ternyata banyak ditemukan dalil-dalil yang meringankan dan memudahkan pengalaman syariat, jauh dari pengertian yang sempit dan menyulitkan. Firman Allah, Dan Allah sama sekali tidak menghendaki kesempitan dalam agama (hingga menyusahkan) kalian. (Al-Hajj:78)
sumber: Memilih bersama Rasulullah oleh Alwi Shahab
Komentar
Posting Komentar